5 Titik Kerugian Pornografi bagi Individu dan Masyarakat menurut Islam

5 Titik Kerugian Pornografi bagi Individu dan Masyarakat menurut Islam

Urusan biologis yang harusnya ranah privat, kini meluas. Hal tersebut justru menjadi ajang hiburan, pekerjaan, bahkan pewarna yang sudah pernah melintas dan diakses semua orang, terutama yang sudah terhubung dengan internet. Konten pornografi, tersaji dalam bentuk video, gambar, suara, teks, bahkan stiker. Hal ini membuat negara-negara dengan industri pornografi semakin “kaya” karena tingginya minat.Lantas apa sebenarnya kerugian pornografi? Bagaimana menurut islam?

Dalil Al-Quran dan Hadis Terkait Pornografi

Sebelum kita membahas beberapa poin yang membuat kita paham kerugian pornografi, maka kita perlu meninjau sudut pandang teks ajaran islam.

Baik Al-Quran, maupun hadits tentunya membahas persoalan manusia secara universal, sejak zaman Nabi, manusia zaman sekarang, hingga di masa depan sekalipun.

  1. Ayat tentang menjaga pandangan

Allah swt Berfirman, yang artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; … Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padany,” (TQS. Al-Nur [24]: 30-31).

  1. Hadits larangan melihat aurat satu sama lain

أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ رواه مسلم (338)

Artinya, “Tidak boleh laki-laki melihat aurat laki-laki lain; perempuan melihat auratnya perempuan lain. tidak boleh lelaki berada dalam satu pakaian dengan lelaki lain begitu juga perempuan tidak boleh berada pada satu baju dengan perempuan lain.”

  1. Tafsir Ulama tentang menjaga aurat dan pandangan

Imam Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan: “Ini adalah perintah dari Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar menundukkan pandangan mereka dari apa-apa yang diharamkan atas mereka.” Tidak ada perbedaan dalam hal ini bahwa yang diharamkan untuk dipandang adalah aurat. Berdasarkan riwayat dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya berkata: “Wahai Rasulullah saw, terhadap aurat-aurat kami, apa yang boleh kami lakukan dan apa yang harus kami hindari? Beliau saw berkata:’Jagalah auratmu kecuali atas istri dan budak perempuanmu.’” (THR. Ahmad bin Hanbal)[2]

Jika disimpulkan dari ayat, hadits, dan pandangan ulama di atas, Allah sangat memahami psikologi interaksi laki-laki dan perempuan dewasa, terlebih ketika sudah berhubungan dengan aurat dan syahwat.

Oleh karenanya, Allah memerintahkan agar tidak mengumbar aurat, menjaga pandangan, serta jika pun ada aurat yang sengaja dibuka agar tidak menyengaja untuk memandangnya. 

Sebagai solusi, Allah memberi jalan pernikahan bagi mereka yang ingin menyalurkan urusan biologisnya, alih-alih menyengaja “bermain” dengan aurat dan syahwat orang lain.

Kerugian Pornografi

Allah memberi larangan untuk saling melihat aurat satu sama lain lawan jenis yang tentu membangkitkan syahwat, dan menyuruh menjaga pandangan tidak asal perintah saja. Ada alasan besar di balik itu. 

  1. Jika Melihat, Nyaman, Bisa Membuat Candu

Sama halnya dengan obat-obatan terlarang, hobi menonton film dewasa membuat seseorang adiktif atau kecanduan. Hal tersebut lantaran otak dapat memproduksi dopamine ketika seseorang merasakan kesenangan.

Secara ilmiah, kecanduan terjadi ketika titik sensitif otak mengira itu adalah reward yang akhirnya membuat hormon dopamin terproduksi. Dopamin sendiri merupakan salah satu zat neurotransmitter yang dapat mengontrol emosi, motivasi, dan perasaan bahagia.

Hingga akhirnya, apabila otak mengira video porno sebagai dopamin, maka zat tersebut akan diproduksi terus menerus saat seseorang menontonnya.

  1. Candu Pornografi Membuat Candu pada Kebahagiaan Semu 

Hidup kita tidak untuk dihabiskan dengan bersenang-senang saja. Lebih dari itu, kita diberi misi untuk menjadi khalifah di bumi, atau berkontribusi untuk diri dan sekitar. 

Jika kita terbiasa dengan hal-hal yang memuaskan diri kita, menyenangkan otak kita, kita akan cenderung sulit untuk melakukan kegiatan yang biasa saja atau tidak memberikan hormon kesenangan seperti bekerja, belajar, mengatasi masalah, dlsb. 

Seseorang menjadi pengejar kebahagiaan semu, alih-alih menundanya untuk kebahagiaan yang lebih besar di masa yang akan datang.

  1. Menghancurkan Keharmonisan Suami Istri

Karena bisa merusak ekspektasi tentang seks dan keintiman. Di mana yang ditonton tentu sudah melalui proses produksi oknum amoral dengan sedemikian rupa, dan kenyataan belum tentu akan seindah yang ditonton.

Hal ini bisa menjadi konflik dan perusak hubungan tersendiri jika terus menerus dilakukan. 

  1. Membuat Amal Kebaikan Menjadi Sia-sia

Jika ada hadis yang mengatakan bahwa perbuatan dosa atau maksiat terutama saat dilakukan sendirian bisa meruntuhkan amal baik kita, maka bisa dipahami seperti ini : 

Amal kebaikan adalah buah dari niat, usaha, dan konsistensi kita di jalan baik. Tentu hal ini menjadi identitas dan kesatuan diri kita dikenal, diteladani orang lain dan disukai Allah. 

Jika dengan enteng seseorang berbuat dosa di kala sendiri, dalam hal ini mengakses pornografi, maka tak ayal amal kebaikan yang dilakukan di depan orang lain seperti semacam pencitraan saja. 

Padahal muslim yang baik adalah di kala sendiri maupun dengan orang lain, konsisten melakukan kebaikan. Karena Allah Maha Melihat dan Mengetahui setiap apa yang kita kerjakan, lebih dari CCTV yg justru bisa menjangkau kita + isi hati kita.

  1. Menganggu Hubungan Interpersonal

Orang yang terbiasa melihat adegan tak senonoh, bisa mengganggu persepsinya terhadap orang lain. Padahal dalam hubungan kerja, hubungan pertemanan, atau sekadar menatap orang berlalu lalang yang sebenarnya biasa saja. 

Bisa jadi dalam pikiran orang yang sudah terjerat pornografi, bisa memandang sebagai objek pemuas syahwat atau membayangkan yang tidak-tidak. 

Hal ini tentu merusak fokus seseorang melakukan hubungan yang baik dan normal dengan orang lain, karena pikirannya tidak mengarah sepenuhnya pada interaksi yang sehat.

Sekian kerugian ponrografi, baik bagi individu, maupun masyarakat yang tentu mengefek jika industri pornografi ini terus berjalan dan merugikan banyak orang. 

Semoga kita terhindar dari perbuatan maksiat yang bisa memberi banyak mudharat, daripada manfaat. 

Bonus Doa Menghindari Diri dari Dosa Pornografi

Sumber : Muslim Okezone

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *