Siapa penggemar Tere Liye, yang setelah baca 1 buku, merambah ke buku-buku lainnya? Ngaku, hehehe.. Saya sendiri bermula dari baca Bumi Series, lalu merambah ke serial aksi Thomas dan Bujang, lalu novel “Rindu” Tere Liye.

Apalah arti memiliki?
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.
Apalah arti kehilangan?
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta?
Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupkan jaraknya setipis benang saja.”
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Begitulah penggalan resensi Novel Rindu Tere Liye yang terbit 9 tahun silam ini. Novel ini meski judulnya seakan berbau romansa, tapi nyatanya lebih pada sejarah, fiksi, dan fantasi. Pun juga meski sudah 9 tahun silam, tapi isinya relevan hingga sekarang dan seterusnya.
Pada tulisan kali ini, aku akan meng-”spill” 5 pertanyaan yang diungkap oleh 5 tokoh utama, berikut jawaban yang sangat epic, ciamik, dan berkesan mendalam. Bahkan pertanyaan terakhirnya sangat menyentil kesadaran kita, karena jawabannya yang melebihi kata-kata.
Jika ingin membaca novel “Rindu” Tere Liye versi ringkas padat, bisa mengintip tulisan ini. Apabila membaca ini justru makin penasaran, boleh banget membaca bukunya versi langsung dan bagikan pandanganmu di komen di bawah ini ya.
Sekilas tentang Tokoh di Novel “Rindu” Tere Liye
Sebelum membahas pertanyaan-pertanyaan serta jawaban berkesannya, mari kita kenalan sekilas dulu dengan beberapa tokoh berikut ini :
- Daeng Andipati, adalah pedagang masyhur yang terkenal, kaya, dan disegani pada zamannya. juga seorang yang lengkap kebahagiaannya karena memiliki putri-putri (Anna dan Elsa) yang pintar, ceria, sholehah dan riang menghidupkan suasana.
- Gurutta, ulama kondang di masanya, menjadi penasihat, guru, imam shalat, dan penulis yang sangat dihormati.
- Ambo Uleng, seorang pemuda serba bisa dalam dunia perkapalan, pendiam, namun menyimpan kesedihan luar biasa karena interaksi dengan orang-orang di masa lalunya
- Mbah kakung Slamet, seorang lansia yang masih mampu memberangkatkan diri serta istri tercinta dan putri sulungnya haji, terkenal dengan kisah setia dan cintanya yang luar biasa pada istri hingga maut memisahkan.
- Bonda Upe, yang berperan sebagai guru ngaji anak-anak yang ikut dalam rombongan haji dan ternyata memiliki masa lalu sebagai pelacur serta takut berinteraksi dengan siapapun karena parno ada yg mengetahui masa lalunya.
Tanya Jawab yang Mengesankan dalam Alur Cerita Novel Rindu Tere Liye
Novel yang salah satu jenis covernya terdapat kapal ini, secara gambaran besarnya adalah sebuah perjalanan haji yang ditempuh dengan kapal uap Blitar Holland pada tahun 1938.
Dalam perjalanan menuju tanah suci Makkah selama berbulan-bulan itu, terdapat banyak orang di dalam kapal dengan motivasi dan dialektika hati masing-masing, terutama tokoh-tokoh yang saya sebut di atas.
Dari dialektika yang berubah jadi guncangan batin tak tertahankan itu lah, muncul pertanyaan kehidupan yang kelak ternyata jawabannya memberi pada pencerahan dan perubahan pada sosok pribadi tiap-tiap orang tersebut.
Berikut ini pertanyaan dan jawabannya yang mungkin menjadi pergolakan batin kita juga.
Pelontar pertanyaan 1 Novel Rindu Tere Liye: Bonda Upe alias Ling-Ling tentang Masa Lalu
Bonda Upe yang berparas cantik khas ras oriental, dan seorang mualaf dari masa lalu yang luar biasa bertanya tentang perjalanan spiritualnya.
Bagaimana tidak? dari kegiatan sehari-hari sebagai cabo atau pelacur bertahun-tahun, lalu jadi seorang guru ngaji dan lihatlah sekarang dia dalam perjalanan haji.
Beliau sesak akan pertanyaan tentang diterima tidaknya ibadah-ibadah yang dia lakukan sekarang, mengingat dosa masa lalunya termasuk luar biasa.
“Apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak menginjak Tanah Suci? Atau, cambuk menghantam punggungku, lututku terhujam ke bumi…. Apakah Allah akan menerimaku? Atau, mengabaikan perempuan pendosa sepertiku…. Membiarkan semua kenangan itu terus menghujam kepalaku. Membuatku bermimpi buruk setiap malam. Membuatku malu bertemu siapa pun.” (halaman 310)
Dengan tutur bahasa serta pemilihan kata, Gurutta berhasil menyejukkan hati serta memuaskan konflik batin hingga ke akarnya.
Secara kurang lebih, Gurutta menjawab lugas berikut:
- Terima kenyataan hidup, jangan lari
- Cemas terhadap orang lain itu tidak ada gunanya, yang tau kita hanya kita.
- Diterima tidaknya ibadah, termasuk haji, itu Hak Allah. Kita hanya berusaha bertaubat
Gurutta menutup dengan saran perilaku untuk Bonda Upe, agar konsisten berlaku baik. Karena siapa tahu, perbuatan-perbuatan baik yg kita ukir, bisa menjadi sebab diampuninya dosa kita di masa lalu.
Pelontar pertanyaan 2 : Daeng Andipati tentang Benci pada Ayah
Siapa yang tidak kagum, atau bahkan ingin juga, mendapatkan kehidupan seperti Daeng Andipati, ayah Anna dan Elsa yang menggemaskan.
Kekayaannya mampu memberangkatkan haji satu keluarganya, membeli sebuah kapal, bahkan juga relasi-relasi orang penting yang karena beliau disegani karena perannya yang kontributif bagi masyarakat.
Tapi siapa tahu, ada tanaman kebencian luar biasa pada ayahnya di masa lalu yang sulit hilang bahkan hingga ia menjadi ayah.
Ayahnya dulu, meski pedagang kaya dan terpandang pada zamannya, tapi di rumah justru sebaliknya. Ia ahli main kekerasan dalam rumah tangga, dan sasaran utamanya adalah ibu Daeng Andipati yang pada akhirnya harus meninggal karena sakit sebagai akibat dari kekerasan bertubi-tubi. Karena itu pula, Daeng juga berpisah dengan saudara-saudaranya.
Beliau dengan pikiran yang masih tersemat kebencian pada ayahnya, merasa ragu atas ibadah hajinya. Apa tanah suci akan terbuka pada anak yang benci ayahnya seumur hidup? Dia ingin memaafkan tapi sungguh sulit. Mungkin beberapa dari kita ada yang relate dengan hal ini.
Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua? (halaman 371)
Gurutta lagi-lagi menjawab dengan bijaksana :
- Membenci orang lain = membenci diri kita sendiri
- Memaafkan bukan karena salah benarnya seseorang, tapi lebih ke kita layak mendapat rasa damai di hati kita.
- Kesalahan memang sulit dihapus, secanggih apapun alatnya. Opsi terbaiknya adalah buka lembaran baru yang putih.
Pelontar pertanyaan 3 : Mbah Kakung tentang Perpisahan Menyedihkan
Jika Daeng Andipati diteladani orang karena pencapaiannya dan perannya, Mbah Kakung sangat patut diteladani dalam hal kesetiaannya.
Hidup berpuluh-puluh tahun dengan seseorang saja tentu bukan hal yang lurus-lurus saja. Banyak cobaan, namun Mbah Kakung tetap tegar berdiri bersama Mbah Putri, istrinya.
Namun istrinya jatuh sakit lalu meninggal saat perjalanan haji, tepatnya saat berangkat dan mau tidak mau dikebumikan secara laut alias ditenggelamkan bersama peti.
Mbah kakung patah hati luar biasa, mengingat dulu mereka berjanji untuk menatap Ka’bah dan beribadah bersama. Hal ini mencetuskan kegalauan luar biasa berikut.
“Kenapa harus terjadi sekarang? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenapa harus ada di atas lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil Haram. Kenapa harus sekarang?” (halaman 469)
Tidak terima dengan takdir yang menimpanya, namun Gurutta lagi-lagi menjawab pertanyaan besar yang muncul dari Mbah Kakung dengan baik.
- Yakinkan dalam hati, kematian orang terdekat adalah takdir Allah terbaik, terima lapang hati
- Biarkan waktu menjadi obat terbaik semua kesedihan, ketika tak tahu lagi harus apa
- Pandang dengan kacamata berbeda, tentang betapa baiknya cara orang tersayang mengakhiri hidupnya, yakni dalam salat Subuh dan perjalanan menuju haji.
Pelontar pertanyaan 4 : Ambo Uleng tentang Cinta pada Seseorang
Kemudian tentang seorang pemuda yang patah hati, bukan karena cintanya ditolak perempuan. Tapi lebih pada situasi dan keluarga yang tidak merestuinya. Bahkan ditolak dengan cara yang sangat menyakitkan hati, meski pengorbanan yang dilakukan besar.
Sampai-sampai, ia ingin menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari kampung halaman dan pekerjaannya yang sudah termasuk mapan di usianya yakni 23 tahun. Mengingat, ia juga tak punya keluarga siapapun.
“Aku yang menyelamatkannya dari badai lautan, dari enam hari terjebak di pulau kecil, ternyata tidak berhasil menyelamatkannya dari perjodohan. Aku kalah. Inilah aku, lari dari seluruh kisah cintaku.” (halaman 490)
Gurutta menjawab pertanyaan ini (terakhir, karena pertanyaan terakhir justru datang dan dijawab dari sosok tak terduga) dengan ciamik.
- Cinta sejati = melepaskan, semakin tulus rasa, semakin melepaskan apa yang terjadi selanjutnya.
- Jika si perempuan cinta sejati, alam semesta akan membuatnya kembali dengan cara yang luar biasa (terbukti di akhir cerita). Jika tidak, berarti ia bukan cinta sejati.
- Cinta yang baik selalu mengajari agar menjaga diri, tidak melanggar batas maupun kaidah agama.
- Jika harapan tidak datang-datang, sibuklah memperbaiki diri. wujud kehilangan apapun bisa siap kita hadapi jika bisa kendalikan harapan dan keinginan memiliki.
Pelontar pertanyaan 5 : Gurutta alias Ahmad Karaeng tentang Bukti Ucapan
Selama perjalanan, Gurutta menjadi jujukan utama jika meminta saran dan nasihat. Terlebih saat ada 4 pertanyaan besar sebelumnya.
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, adalah judul buku yang beliau tulis selama perjalanan haji dan hampir selesai ketika ada tragedi luar biasa saat kapal didatangi perompak.
Meski imannya teguh, ibadahnya kuat, kata-katanya menembus relung jiwa dan mengubah seseorang bahkan banyak orang, tapi ternyata beliau menyimpan pertanyaan besar. Bisa jadi kita juga bergumul dengan konflik batin serupa.
Saat itu, Gurutta menjadi tombak utama dalam memberi keputusan untuk menyerang balik pasukan perompak bersenjata yg hampir menguasai seluruh kapal haji. Jika diam saja, maka semua orang bisa terbunuh, kapal dirampas, dan perjalanan haji tidak bisa lanjut.
Berat hatinya untuk memulai pergerakan berupa pertempuran fisik, karena masa lalunya membuatnya untuk “bergerak” lewat pena. Merdeka dengan melawan, atau mati karena diam.
“Lihatlah ya Rabbi, betapa menyedihkan dirinya. Orang yang pandai menjawab begitu banyak pertanyaan, sekarang bahkan tidak berani menjawab pertanyaan diri sendiri. Ia menulis tentang kemerdekaan, tapi ia sendiri tidak pernah berani melakukannya secara konkret. Ia selalu menghindar, lari dari pertempuran dengan alasan ada jalan keluar lebih baik.” (halaman 532)
yang menjawab justru dari pelontar pertanyaan sebelumnya, Ambo Uleng.
- Kata-kata saja tidak cukup menjadi perang. ketika kondisi terdesak, melawan dengan kata-kata tidak ampuh bahkan bisa melukai atau membunuh diri.
- Kebebasan dan kemerdekaan juga perlu ditempuh dengan perang fisik.
Ambo uleng menekankan bahwa pembuktian perbuatan, yakni dengan memberi keputusan untuk YA, AYO BERGERAK MELAWAN MUSUH, bisa membuktikan seluruh kata-kata dan sosok religius yang sudah dibangun Gurutta berpuluh-puluh tahun.
Kata-kata, sikap, gerakan, adalah ikhtiar perubahan yang bisa menjadi pembuktian atas keyakinan kita.
Demikian 5 pertanyaan serta jawabannya, yang meski kita mungkin sudah tahu, tapi sebagai pengingat agar tidak terlarut dalam masa lalu, penyesalan, kehilangan, kesedihan, dan omong kosong perkataan.
Semoga Allah senantiasa menjadikan kita menjadi seseorang yang berhati lapang, dan selalu menerima apapun yang menimpa kita kini maupun esok.


