Makna shalat tarawih

3 Makna Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan, Bikin “Eman” Melewatkan

Ramadhan dan sepaket ibadahnya menjadi spesial mengingat kita didukung untuk makin khusyuk karena sudah ada “pengkondisian” religius di penjuru lingkungan manapun (khususnya Indonesia). Salah satunya shalat tarawih, tapi tahukah kamu, makna shalat tarawih?

Nah, tarawih sebagai salah satu shalat sunnah di bulan suci ini, kalau saya bahasakan seperti salah satu “momen pas” untuk mendekatkan diri pada Allah. yang dekat agar makin dekat, yang merasa belum dekat, bisa melakukan usaha mendekati. 

Lha momen PDKT pada calon pasangan aja beragam bentuknya, dan diusahakan susah payah untuk dapetin hatinya. Apalagi kita pada Allah, yang tempat kita bersandar, bergantung, dan meminta segala pertolongan. Tentu harus lebih ekstra PDKT ya kan?

Artikel ini, berdasarkan riset literatur dan “mengkaji” dari berbagai sudut pandang ulama dan buku, saya akan sedikit memaparkan tentang makna Shalat Tarawih. Bukan hanya soal pahala, tapi lebih pada yang bisa “diamati” manfaatnya.

Sejarah Tarawih

Ceritanya nih, asal mula shalat Tarawih ada itu dari tahun 2 H. Di mana Nabi Muhammad dan para sahabat melakukan Qiyam Ramadhan secara berjamaah. (di bulan biasa, kita menyebutnya sebagai QIyamul Lail)

Shalat terus dilanjutkan hingga akhir Ramadhan tahun itu. Tapi, Nabi Muhammad menghentikannya dan menuai heran umat muslim saat itu. 

Berikut ini hadisnya : 

“Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin ra: sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam hari sholat di masjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau, beliau sholat dan pengikut bertambah ramai (banyak) pada hari keTiga dan keempat orang-orang banyak berkumpul menunggu beliau Nabi, tetapi Nabi tidak keluar (tidak datang) ke masjid lagi. Ketika pagi-pagi, Nabi bersabda: “sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali kalau sholat ini diwajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata: “hal itu terjadi pada bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika dibayangkan situasinya, terutama di masa-masa awal hijrah yakni tahun ke-dua di Madinah, kondisinya umat islam di Madinah sangat menuruti apa kata dan perbuatan Nabi. 

Hal tersebut karena semenjak Nabi menginjak tanah hijrah, Nabi sudah berposisi seperti kepala agama sekaligus pemimpin lintas kelompok. Hal tersebut dibuktikan dari adanya piagam Madinah yang menjadi aturan hidup bermasyarakat di sana waktu itu.

Piagam madinah makna shalat tarawih

Nah kembali lagi, saat itu Nabi Muhammad melakukan ibadah shalat malam yang ternyata diikuti banyak umat muslim. Shalat itu dilakukan di bulan Ramadhan, malam hari, dan menurut hemat saya Nabi melakukannya sebagai sunnah atau tambahan dari shalat wajib, sebagai sarana semakin mendekatkan diri pada Allah.

Namun, Nabi karena paham posisinya sebagai “teladan umat”, beliau mengkhawatirkan shalat malamnya tersebut menjadi dianggap wajib dan diikuti umat muslim.

Lalu kemudian, menjadi memberatkan umat muslim (secara umum) dalam menjalankan perintah agama islam yang padahal itu bukan ibadah wajib seperti shalat 5 waktu.

Maka dari itulah, diberhentikan oleh Nabi Muhammad. Lalu dimulai lagi pada era Umar Bin Khattab menjabat sebagai khalifah kedua, yang itu sepeninggal Nabi.

Shalat tarawih (yang juga sepaket dengan Witr) akhirnya terus dijalankan hingga sekarang, baik yang 11 maupun 23 rakaat, di seluruh penjuru dunia.

Makna Shalat Sunnah Berjamaah Khas Ramadhan 

Makna shalat tarawih

Memang ibadah dan mendekatkan diri, agar menjadi hamba yang pantas di mata Allah tidak harus melalui shalat tarawih saja. 

Menolong yang kesulitan baik yang memohon bantuan maupun tidak, menegakkan yang jujur di antara lingkungan bobrok, berpartisipasi dalam program sosial, mengajarkan isi Al-Quran, dan lain sebagainya juga bisa. 

Bahkan bentuknya sangat buanyak kalau membicarakan tentang strategi PDKT agar jadi hamba terbaik. Entah itu habluminallah, dan habluminannas mengingat kita punya bejibun peran dan hubungan sosial selama kita hidup.

Namun siapa sangka, ternyata shalat tarawih di bulan Ramadan ini bisa memiliki makna. Nah, makna shalat tarawih ini berdasar penghayatan pribadi ya.

1. Makna Shalat Tarawih : Sarana Meningkatkan Intensitas Keimanan

Tidak hanya 4 seperti rakaat terbanyak shalat fardhu, tarawih yang 11 bahkan 23 rakaat membuat kita “makin intens” melantunkan bacaan demi bacaan shalat yang penuh dengan doa dan ketundukan kita pada Allah yang Maha dari segala Maha. 

Baca juga : Tips Khusyuk Shalat dengan Paham Makna Bacaan Shalat

Dengan “hadir sepenuhnya” atau istilah keren masa kini-nya adalah mindfullness dalam rakaat-rakaat tarawih tersebut, maka kita bisa mendapat momen spiritual yang luar biasa dan tentu mempertajam keimanan kita.

ukuran keimanan makna shalat tarawih

EH darimana tahu iman kita bertambah dalam? Emang ada “satuan”nya? Coba aja cek tingkat ketenangan di hatimu. Makin kamu merasa tenang untuk setiap hal nano-nano dalam hidup, selamat imanmu bagus. Tapi hanya Allah yang tahu ukuran pastinya ya.

2. Makna Shalat Tarawih : Momen Bersyukur dan Merenungi Manfaat Ibadah Puasa

Tarawih dilakukan, biasanya setelah kita berbuka, magrib, jeda sejenak, shalat isya, baru lah shalat tarawih. Bahasanya, kita habis “seger-seger” dan “lega” berbuka setelah lapar haus seharian, kita refreshing dengan tarawih.

Hal ini bisa juga menjadi kesempatan kita mensyukuri ibadah puasa yang kita lakukan pada hari tersebut. 

Uniknya, (mungkin kalian juga merasakan) kalau laper haus di hari biasa itu sangat menyiksa, bikin tubuh gemeteran dan ga fokus seharian. Tapi tidak untuk puasa ramadan yang entah gimana ceritanya kita bisa lebih kuat meski laper. 

Nah, disitulah kita bisa memaknai lagi persembahan ibadah puasa kita saat menjalani momen ibadah tarawih. Karena saat lepas tarawih kita biasanya niat puasa besoknya berjamaah kan?

Ohya bersyukurnya, bisa atas nikmatnya berbuka, nikmatnya bisa sehat menjalani puasa, nikmatnya bisa beraktivitas belajar/bekerja di tengah puasa, dan memeta satu persatu nikmat lain yang bisa merambah ke manfaat selainnya yakni poin 3 berikut.

3. Makna Shalat Tarawih : Memperbaiki Produktivitas untuk Setiap Peran Kita

Mindset yang positif dan penuh syukur, hati yang tenang, fisik yang segar sehat, bisa menjadi senjata ampuh untuk menebas masalah demi masalah yang hampiri kita.

Karena dengan tahu Allah menilai kita, mengawasi kita, membantu kita dengan momen dan cara tak terduga, “menguatkan” dan tempat kita bersandar di kala apapun, kita menjadi termotivasi menjalankan setiap peran kita.

Sebagai anak, sebagai pekerja/pelajar, sebagai suami/istri, ibu/ayah, teman, anggota organisasi tertentu, dan sebagainya.

Tidak Perlu Memaksa, Tapi Jika Bisa Kenapa Tidak?

Memang bentuknya sunnah. Juga memang manfaat dan makna shalat tarawih di atas tidak hanya bisa didapat dari Tarawih. Tidak, tidak harus dilakukan kok. Apalagi setiap hari, yang tentu ada kalanya lelah.

Tapi jika fisik kita mampu, dan waktu pasca isya kita kosong, daripada dihabiskan untuk kegiatan yang kurang bermanfaat apa salahnya juga kita menggencarkan usaha kita PDKT dengan Sang Pencipta?

Begitulah makna shalat tarawih menurut pendalaman pengamatan saya. Makna shalat tarawih ini tidak bisa dijadikan pijakan keilmuan. Namun, dengan manfaat luarbiasa dari makna shalat tarawih versi saya di atas, semoga bisa menjadi motivasi kita untuk bisa meluangkan waktu melaksanakan ibadah ini.

Yuk, jangan sia-siakan momen Ramadan berlalu begitu saja, dan iman kita gitu-gitu aja!

#BPNRAMADAN2023

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *