Review Film Sri Asih

Review Sri Asih : Perintis Film Superhero Perempuan di Indonesia

Sri Asih Film Superhero Perempuan Pertama di Indonesia

Pada suatu siang yang cerah di awal bulan Desember ini, aku kembali menemui tamu rutinku. Iya, haid. dan seperti biasanya rasa itu akan datang lagi. Bad mood gak jelas, rasa lemas seluruh tubuh, kepala pusing nyeri, dan tentunya perut seakan dihujam jarum bersamaan. Demi pengalihan agar tidak fokus pada rasa itu, aku terpikir untuk nonton Superhero Perempuan, Sri Asih, bersama adik. Barangkali kecipratan spiritnya hehehe. 

Random sekali memang, dari yang biasanya hanya nonton film lewat hp atau laptop dan jarang ke bioskop (bahkan hampir setahun sekali, itu pun direncanakan jauh hari), jadi langsung berangkat gitu aja. Ya gila sih, memang daya tarik film superhero seperti Avenger Universe dan sejenisnya itu tinggi banget. Apalagi ini Indonesia, perempuan lagi, WOW !

Sri Asih adalah film yang aku tonton saat sudah termasuk hari-hari terakhir tayang di bioskop. Padahal belum nonton yang Gundala, tapi masih bisa dipahami alur cerita yang keren dan melebihi ekspektasi perfilman Indonesia banget. Super Badass, merinding selama nonton dan sosok perempuan Sri Asih yang diperankan oleh Pevita Pearce ini memberi kesan tersendiri bagiku sebagai perempuan juga.

Sepertinya ini juga bakal jadi salah satu list film favoritku deh. Belum nonton dan penasaran tentang apa detailnya? Mau tau sebagian spoiler ceritanya? Yuk simak lebih lanjut..

Sri Asih : Asal-usul Awal 

Adegan awal sri Asih menunjukkan ada sepasang suami istri yang sedang mengunjungi gunung merapi, tepat saat si istri hamil 5 bulan. Namun tiada disangka, gunung merapi meletus saat warga beraktivitas normal serta banyak pengunjung di sana. Sontak suami istri tadi lari menjauh, tapi si istri mendadak ingin melahirkan !

Meskipun sudah menjauh dengan mobil, kecepatan abu vulkanik dari letusan gunung bisa mengimbangi kecepatan orang-orang termasuk suami istri tadi. Karena abu gelap menutupi kaca mobil, sang suami akhirnya menabrak pohon di hutan dan meninggal seketika. Si istri masih sadar dan kembali kontraksi, lalu melahirkan dan bayinya selamat.

Itu lah Alana. lahir di tengah letusan merapi, dan diasuh di panti asuhan hingga ia sekitar umur 10 tahun. Ia berteman dengan Tangguh, yang saat itu suka ditindas oleh teman-temannya dan tidak berani melawan. Alana justru yang datang membela bahkan sampai bermain fisik dengan mereka yang melawan Tangguh.

Lalu.. Entah dari mana, ada seorang wanita kaya dengan background pemilik usaha semacam bela diri tinju, mengadopsi Alana yang merupakan cikal bakal tokoh Sri Asih nantinya. 

Kehidupan Sri Asih Dewasa

 

Alana tumbuh menjadi wanita petarung yang memang super kuat baik secara fisik maupun mental. Dia yang lebih berani dari kawan-kawan laki-lakinya sejak kecil, menjelma menjadi perempuan yang semakin tangguh saat dewasa, yang juga karena didikan Sarita, ibu asuhnya. Ia tidak takut sama sekali melawan siapapun dan selalu menang dalam laga pertarungan melawan laki-laki manapun. 

Namun, dia belum tahu sama sekali mengenai jati dirinya, siapa orang tuanya, dan kenapa ia selalu dihantui mimpi buruk. Mimpi itu berupa kedatangan Dewi Api yang merupakan jelmaan dari Kejahatan yang ada di dunia ini, tapi masih terkurung. 

Asal Alana tahu saja, dia punya dua potensi. Ketika amarahnya tidak terkendali, dan dikuasai nafsu, dewi api bisa bangkit dan memusnahkan seluruh dunia. Jika ia bisa mengendalikan dirinya, ia ada di pihak Dewi Asih atau jelmaan Kebaikan. 

Masalah Sosial yang Diangkat

Adegan dilanjutkan dengan pertemuan penguasa adidaya, yakni anaknya yang juga bergelut dalam dunia tinju, Mateo (Randy Pangalila). Alana dan Mateo dipertemukan dalam pertandingan yang niatnya settingan, agar Alana mengalah di akhir. 

Namun karena Alana sudah dikuasai nafsu amarah melihat Mateo yang kebiasaannya suka main fisik ke perempuan dan kesewenangannya. Ia kalap dan meninju anak dari pengusaha kaya itu hingga KO. Ia tidak tahu berurusan dengan siapa

Benar saja, di sini lah mulai memuncak konfliknya. Ibu asuhnya tiba-tiba bonyok sekarat dan koma lama. Alana makin emosi jiwa dan ingin memporak-porandakan Mateo dan jajarannya. Nah di sinilah ia bertemu Kala (Dimas Anggara) dan ibunya (Christine Hakim) yang mengungkap semua jati diri Alana sebagai Sri Asih. 

Cerita selanjut-selanjutnya juga membahas mengenai beberapa masalah sosial yang juga akrab kita temui di dunia nyata lho. Apa aja itu?

Pemerintah yang citranya “tidak bisa apa-apa” terhadap masalah sistemik

Ada adegan yang menunjukkan saat rapat pengusaha kaya hendak menjalankan program apa, itu menyoroti masalah kemiskinan. Dalam film Sri Asih ini, tidak ditunjukkan sama sekali perwakilan peran dari pemerintah. Tapi dari percakapan rapat bisa diambil kesimpulan bahwa peran pemerintah di film itu dianggap tidak ada. 

Kenapa? negara kaya, tapi masyarakatnya masih banyak yang miskin dan pemerintah kurang bisa mengubah nasib mereka. Bahkan pengusaha-pengusaha di film Sri Asih ini mengecap pemerintah tidak bisa melakukan apa-apa karena sudah sangat sistemik problematikanya. 

Penguasa kaya yang punya segalanya menjadi pengatur

Pemeranan pengusaha ini sangatlah mirip dengan realitas kita. Pengusaha dan sumber daya uang, menjadi penggerak banyak hal. Namun, dalam film Sri Asih ini digambarkan dengan jelas bagaimana pengusaha dengan kewenangannya memiliki niat dan tujuan yang buruk, hanya demi keuntungan mereka pribadi.

Tidak berdayanya masyarakat miskin

Jika ada yang sudah berdaya dan semaunya buat peraturan, maka yang terimbas adalah masyarakat miskin. Dalam film Sri Asih ini, digambarkan bahwa sekumpulan orang di lingkungan yang kumuh serta seperti rumah susun harus menelan pil pahit harus segera pergi dari tempatnya hanya untuk kepentingan orang kaya tadi. 

Kinerja polisi dan media yang berpihak pada siapa yang memberi mereka “uang” dan “jabatan”

Nah ini nih yang keji-keji nyata. Siapa sangka pengayom masyarakat dan penyambung realitas berita terbaru dengan masyarakat umum adalah peranan yang bisa diatur dengan uang serta kekuasaan. Bahkan anak kecil di cuplikan Sri Asih sempat mempertanyakan ke Jatmiko (Reza Rahadian), apa benar polisi semua itu jahat kecuali polisi tidur? hm hmmm

Media yang seharusnya memberitakan adanya kebakaran karena sengaja ada yang membakar suatu permukiman, karena dibayar oleh yang membakar, jadi bisa “merevisi” laporan beritanya. Menjadi hanya kebakaran karena korsleting listrik biasa ?

Lemahnya kekuatan orang-orang lurus yang hendak membela yang lemah

Masalah sosial yang diangkat terakhir mengenai orang-orang baik tapi geraknya sendiri dan kurang punya power untuk melawan mereka yang berkuasa. Salah satu adegannya digambarkan dengan seorang wartawan senior yang harus tertembak mati karena memberitakan “hal kotor” yang dilakukan penguasa, padahal benar adanya. 

Pertarungan Sengit dan Kekuatan Sri Asih

Nah apa hubungannya dengan superhero perempuan Sri Asih yang diperankan Pevita Pearce ini? Pada momen klimaksnya, Sri Asih yang berkekuatan selendang serta kostum ajaibnya, kecepatan super, tenaga yang setara dengan 250 pria dewasa, harus melawan roh jahat yang hendak melancarkan niat busuknya menghancurkan dunia. 

Adegan pertarungan demi pertarungan terus terjadi dan membuat penasaran apakah Sri Asih benar-benar bisa menyelamatkan kekuatan jahat itu.

Hikmah Moral yang Bisa Diambil

  1. Kemarahan dan Emosi Negatif Itu Tidak Solutif

Iya, di akhir film nanti kalian akan tahu. Bagaimana keputusan untuk tidak marah dan mengikuti nafsu dendam yang ada, alias memilih untuk mengendalikan emosi, justru membawa efek yang jauh lebih baik. Memang agak fight ya, meredam emosi terutama untuk hal-hal yang memang menyakiti kita atau sekitar kita. 

  1. Kebaikan VS Kekuasaan Sewenang-wenang

Di dunia yang fana ini akan selalu ada kutub masyarakat yg berlawanan, yang dalam Sri Asih ini adalah kelompok yang berkuasa dan menggunakan kekuasaan itu untuk ego pribadi dan juga kelompok yang tidak tahan akan penindasan dan kerusakan masyarakat. Kelompok yang berniat baik dan yang berkuasa ini akan selalu bermusuhan, entah bagaimana caranya.

  1. Ketimpangan Sosial-Ekonomi itu Diperjuangkan, Bukan Dimanfaatkan

Ada pandangan tentang kemiskinan menurut sekelompok orang di film Sri Asih ini yang agaknya terlalu “semena-mena” ya. Salah satunya adalah orang miskin di suatu negara adalah suatu beban yang harus segera disingkirkan agar tidak banyak merugikan. Asal mereka tahu saja, problematika ini terlalu kompleks jika hanya disingkirkan. Perlu solusi yang harus diperjuangkan agar “meminimalisir” kemiskinan, yang penyebabnya bisa banyak dan saling berkait. 

  1. Setiap Perempuan Punya Kekuatan Tak Terduga 

Ini nih yang paling aku favorit. Bagaimana Pevita Pearce sebagai Sri Asih menunjukkan bahwa gender perempuan tidak membatasi dirinya untuk melakukan hal-hal di luar “basic task” perempuan di rumah tangga. Ia tak gentar melawan kekuatan besar di luar dirinya dengan kekuatan dalam dirinya yang ternyata lebih dari yang ia pikirkan. Jika setiap perempuan merenungi diri dan kelebihannya, bukan hal yang tidak mungkin bukan, ada hal-hal besar yang bisa dilakukan yang membuat diri perempuan semakin bermakna?

Rating dan Kelebihan Film Sri Asih

Menurutku sih, 9/10

  1. Efek CGI yang luar biasa 
  2. Spirit Pertarungan yang bisa dirasakan
  3. Mengangkat Isu Sosial Politik yang kental dan relate

Kekurangan Film

  1. Jalan Cerita yang Sebagian Membingungkan, iya karena ada bagian cerita dimana terpotong begitu saja tidak jelas kelanjutannya. Bahkan sampai akhir masih tidak terjelaskan kenapa adegannya seperti itu dan fungsinya apa di seluruh film. 
  1. Ada Tokoh yang Kurang Terjelaskan, masih terkait dengan jalan cerita, sebagian tokoh ada juga yang perannya kurang bisa ditangkap maksudnya sebagai apa. sekaligus ada hubungan antar pemeran yang masih ambigu membuat bertanya-tanya dan terpaksa harus menyimpulkan sendiri
  2. Happy Ending yang kurang melegakan, meskipun secara umum happy ending, tetap saja karena ada jalan cerita yang mengganjal, membuat ending terkesan masih menyimpan misteri pertanyaan, kenapa ini begini dan kenapa si itu begitu, dlsb. yaa mungkin sebagai salah satu unsur marketing agar kita selalu mengikuti jalan cerita dari superhero universe di Indonesia ini ya

Last but not least, tiap film akan selalu ada hal bagus yang buat terkesan, sekaligus sisi-sisi yang kita secara pribadi tidak suka. But overall di film Sri Asih ini berhasil sih, menunjukkan pesan tersiratnya dan kekurangannya tidak terlalu mengurangi dari kualitas epicnya film superhero wanita pertama di Indonesia ini.

Next, review film apa lagi nih? 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *